Jakarta -
Persaingan sengit antar kandidat ketua umum Partai Persatuan
Pembangunan (PPP) sudah terasa meski muktamar ke-VII partai berlambang
Kabah ini baru saja dibuka. Kampanye negatif pun bermunculan.
Muktamar PPP digelar di Hotel Panghegar, Bandung, dari 3-5 Juli 2011. Muktamar dibuka Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Sasana Budaya Ganesha (Sabuga).
Dalam sambutan pembukaan, SBY mengimbau PPP menjadi teladan. "Saya ajak jajaran pimpinan, ulama dan kader PPP selalu memberikan teladan dalam perilaku politik yang bersih, cerdas dan toleran. Tumbuh kembangkan nilai-nilai ukhuwah Islamiyah dalam demokrasi kita," imbau SBY.
Tiga kandidat yakni Suryadharma Ali (SDA), Ahmad Muqowam, dan Ahmad Yani bakal bersaing memperebutkan kursi ketua umum. Sementara Muchdi PR yang sebelumnya disebut-sebut maju sebagai kandidat, mengundurkan diri pada menit-menit akhir menjelang muktamar.
Kabar di arena muktamar menyebutkan Muchdi sadar bakal terganjal AD/ART partai soal calon ketua umum yang minimal harus aktif di kepengurusan partai selama 5 tahun.
Namun sumber detikcom di PPP mengatakan, Muchdi mundur bukan lantaran bakal terganjal aturan. Melainkan, ia mundur gara-gara kehabisan tenaga alias kehabisan dana.
"Dia ngakunya uang yang disimpan di UEB Bank Singapura belum bisa cair sehingga kesulitan untuk merangkul DPC-DPC," ujar salah seorang Ketua DPC PPP di wilayah Sulawesi Selatan yang enggan disebutkan namanya.
Muchdi sebelumnya mengklaim telah mendapat surat pernyataan dukungan dari sekitar 650 DPC. Lantas bagaimana dengan klaim dukungan itu, sumber detak yang merupakan pengurus DPC di Sulsel mengatakan, Muchdi menyerahkan surat dukungan DPC-DPC yang ia dapat itu kepada Muqowam.
Tapi Muqowam saat dikonfirmasi menampik mendapatkan limpahan surat dukungan dari Muchdi. Menurutnya, dukungan-dukungan yang datang padanya murni hasil kerja kerasnya meyakinkan pengurus-pengurus DPD di sejumlah provinsi. "Saya dapat dukungan dari DPD dan DPC karena punya pemikiran dan semangat yang sama," sangkal Muqowam.
Informasi yang diterima detikcom menyebutkan, menjelang muktamar, Muqowam mengumpulkan sejumlah DPD dan DPC di Hotel Kaisar, Jakarta Selatan, Sabtu (2/7/2011) lalu. Di hotel itu, Muqowan berupaya memastikan suara dukungan terhadap dirinya untuk menghadapi SDA, yang selama ini diunggulkan terpilih sebagai ketum PPP.
Supaya suara dukungan dari DPC tidak “masuk angin” alias berpindah, Muqowam juga melakukan ‘karantina’ terhadap sejumlah pengurus DPC di sebuah hotel di Lembang.
Bukan hanya Muqowam yang berupaya mensolidkan suara dukungan. Kandidat-kandidat lain juga melakukan hal yang sama. SDA mengumpulkan para pendukungnya di Hotel Horison. Sementara Ahmad Yani sudah melakukan konsolidasi dengan para pendukungnya sebanyak 250 pengurus DPC di Hotel Borobudur, pada 1 Juli 2011.
Untuk meraih dukungan dari pemilik suara tentu bukan perkara mudah. Sumber di PPP mengatakan, untuk mendekati pemilik suara, baik DPW, DPD, dan DPC, para kandidat harus mengeluarkan banyak uang. Masing-masing pemilik suara kabarnya diberi uang Rp 10-30 juta, untuk mau memberikan surat dukungan.
"Yang paling banyak menjanjikan uang kepada DPC adalah Muchdi PR. Sebab saat penggalangan dukungan ke sejumlah DPC, dia berjanji akan memberikan uang 3 kali lipat dari jumlah yang diberikan SDA," ujar sumber tersebut.
Sumber itu kemudian mengatakan, SDA diketahui telah memberi uang kepada masing-masing ketua DPC Rp 10 juta. Sementara Sekretaris DPC sebesar Rp 5 juta. Jika menang, SDA menjanjikan Rp 30 juta bagi Ketua DPC. Sementara untuk sekretaris dijanjikan Rp 20 juta.
"Bisa dibayangkan berapa uang yang didapat DPC yang mau mendukung Muchdi PR. Bila tiga kali lipatnya," kata sumber itu.
Tapi sayangnya, Muchdi tidak jadi maju alias keok menjelang hari H. Akibatnya sejumlah DPC akhirnya gigit jari. Nah, jika klaim yang menyebut suara dukungan akan dialihkan kepada Muqowam, tentu saja beban janji Muchdi kepada DPC kini beralih ke Muqowam.
Yang pasti, saat pemilihan Ketua Umum PPP, diperkirakan masing-masing kandidat bakal mengeluarkan seluruh sumber daya yang dimiliki untuk meraih kemenangan. Mulai dari pembagian uang kepada pemilik suara maupun kampanye negatif.
Soal kampanye negatif memang sudah mulai terlihat saat pembukaan muktamar. Salah satu kampaye negatif yang beredar di kalangan wartawan antara lain soal penggunaan uang di Kementerian Agama untuk penginapan para peserta muktamar.
Isu lainnya yang beredar adalah soal kawin siri yang dilakukan Muqowam pada 2008, lalu. Pada 2009, Muqowam pernah diadukan ke Badan Kehormatan (BK) DPR oleh Rilune Naudur Paulina Hutauruk. Paulina yang membantah dinikah siri mengaku dinikahi secara sah oleh Muqowam namun kemudian diterlantarkan.
Kasus pernikahan siri Muqowam itu diperkirakan bakal menjadi omongan di arena muktamar.
Di tengah memanasnya persaingan antar kandidat, mantan Ketua Umum PPP Hamzah Haz mengingatkan agar tidak ada money politics dalam pemilihan ketum PPP. Money politics akan merusak partai. "Yang nyogok dan disogok masuk neraka. Ini partai Islam, kalau (sogok menyogok) itu terjadi, hidayah atau berkah dari Allah kurang " kata Hamzah.
(ddg/iy)
HUT ke-13, detikcom bagi-bagi 13 iPad 2, juga puluhan ribu tiket bus dan kereta. Daftar di sini.
Dapatkan ulasan lengkap mengenai laporan & investigasi DETIK+ dengan aplikasi detiKios untuk iPad Anda
oleh: detikNews



0 komentar:
Posting Komentar